Oleh; Moch Rizky Pratama Putra
Rabu kemarin saya tidak bisa menyempatkan waktu untuk hadir berkuliah, karena tubuh ini entah mengapa begitu lemas saat digerakkan. Asam lambung
yang naik dan maag yang berkecamuk menjadi romantisme yang tak terlewatkan.
Mungkin saya waktunya beristirahat karena sudah terlalu sering pulang larut
malam dari diskusi yang ada dikampus maupun warung kopi.
Ya, tubuh memang memiliki metabolisme biologis (alami)
dimana ada waktunya makan, beristirahat dan berolahraga demi menjaga kebugaran
tubuh tersebut. Sangat berbeda sekali bukan, dengan metabolisme teknologi yang tidak
pernah berhenti dan akan selalu bekerja melampaui batas-batas manusia. Inilah
yang Karl Marx prediksi ketika melihat revolusi industri yang terjadi di Jerman
kala itu. Dimana industri memiliki metabolisme yang akan terus berkembang dan
mengekang manusia sebagai pelaksana metabolisme teknologi (atau bisa jadi manusia
tak lagi dibutuhkan). Bedanya dengan metabolisme biologis manusia yang tidak
bisa bila makan sekali dalam seminggu kemudia libur, namun harus teratur dan
tak boleh berlebihan. Sedangkan metabolisme teknologi menurut Karl Marx bisa
berjalan tanpa mengenal batas waktu dan terus meraup keuntungan dalam konsumsi
dan produksinya.
Ahh, atau mungkin saya masih sakit ketika menulis ini. Terlalu
berpikir yang tidak-tidak ketimbang memikirkan pacar.
Rabu, 6 April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar