Selasa, 12 April 2016

Reinterpretasi Tuhan

Oleh: Abu Rizal
Perjalanan spiritual untuk menuju Tuhan adalah bersifat pribadi dan privat, bahkan kalau bisa, bersifat rahasia pula. Karena saya tak perlu tahu anda sudah shalat (kalau Muslim), pernah shalat atau tidak shalat sekalipun, toh itu hak pribadi kalian sebagai umat beragama yang merdeka dan berdikari ada sebuah pertanyaan umum bagaimana cara manusia melihat Tuhan. Kita selamanya akan sulit menyakinkan diri bahwa agama itu banyak, walau Tuhan selalu hanya satu, walau Dia memiliki banyak nama sesuai agama yang kita yakini masing-masing.


Saya memandang Tuhan sebagai titik terjauh dari logika berpikir manusia yang tidak akan pernah kita capai, bahkan oleh seorang Einstein sekalipun. Makanya, saya tidak pernah setuju bahwa kita bisa me-manusia-kan Tuhan kendati kita seolah-olah menggunakan kata sebagai alat substitusi untuk menunjukkan cara kita memanusiakan Tuhan. Dan anehnya, kalaupun kita berupaya memanusiakan Tuhan yang jelas-jelas utopis, kita harusnya malu karena kemudian untuk memanusiakan manusia pun kita masih tertatih-tatih, ini malah dengan arogannya kita berani me-manusiakan Tuhan. Paradoks. Lucu. Banget.

Saya mengibaratkan Tuhan seperti ucapan Cak Nun. Dia adalah Guru dalam kehidupan di Bumi. Dan semua manusia, dari penjahat paling sadis sampai Imam Tinggi Masjidil Haram atau Paus di Vatikan pun, adalah muridNya, tanpa terkecuali. Dan seperti laiknya guru di sekolah, Tuhan pun akan menilai dan menguji kita sehingga Dia nantinya akan memberi rapor, yang menentukan kita naik kelas atau tidak, bahkan mungkin, kita masuk surga atau neraka. Lucunya logika manusia yang rendah adalah, munculnya keunikan nyeleneh dari manusia yang saling memberi rapor dan menilai manusia lainnya, suatu kewenangan yang melampaui tugas dan kemampuan kita di dunia.

Kesombongan terbesar manusia bukan ketika kita berjalan dan berlagak dengan angkuh dan arogan, tapi disaat kita berpikir bahwa kita tidak memiliki satu titik transcendence bernama Tuhan, itu adalah titik dimana kita mungkin lupa, bahwa Firaun yang secongkak dan seangkuh itupun menyembah Tuhan berwujud Dewa Ra. Semua butuh Tuhan, bahkan seorang agnostik sekalipun, bahkan Karl Marx sekalipun, tapi entah dengan seorang atheis. Nietszche yang radikal dan fundamental sekalipun memiliki wujud Tuhan dalam rupa Zarathustra. Lalu. siapa yang berani me-manusia-kan Tuhan tanpa menyadari bahwa diri mereka pun sejatinya membutuhkan Tuhan lebih dari yang bisa mereka bayangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar