Oleh: Dian Anggraini
Melihat film ini,
saya begitu terenyuh atas kekejaman para pemilik modal yang semena-mena dalam menjalankan
kekuasaannya demi meraup keuntungan. Saya pun kemudian teringat beberapa peristiwa seperti ini juga pernah terjadi di beberapa tempat di Jawa Timur, Film ini adalah Rayuan Pulau Palsu yang diproduksi Watchdoc pada tahun 2016. Film dokumenter
garapan Rudi Purwo Saputro dan tim itu memang sengaja diputar sebagai agenda rutin
dalam kelas film yang diinisiasi oleh kawan-kawan Litbang.
Film yang berdurasi
satu jam itu mengangkat isu reklamasi di Teluk Jakarta. Isu reklamasi ini
bergema beberapa waktu terakhir, terutama karena menyeret bos properti dan
anggota DPRD DKI Jakarta sebagai tersangka.
Rayuan Pulau Palsu menggambarakan ancaman kerusakan ekologi di Teluk Jakarta akibat reklamasi. Tidak hanya ancaman kerusakan ekologi, tetapi juga ancaman kemiskinan rakyat kecil yang berada di Muara Angke tersebut. Film itu juga menunjukkan adanya pembohongan publik dengan adanya demo tandingan (palsu), hal itu terlihat dari pengakuan warga yang dibayar untuk diajak berdemo. Kemudian terdapat juga pengakuan seorang koordinator demo yang diminta pihak pengembang mencari masyarakat untuk berdemo menerima reklamasi di Teluk Jakarta. Pendemo bayaran ini berhadapan dengan nelayan yang juga berdemo menolak reklamasi di teluk yang menjadi (sumber) gudangnya ikan bagi warga DKI Jakarta dan sekitarnya itu.
Sebelum membuat Rayuan Pulau Palsu, Watchdoc pernah membuat film dokumenter juga terkait isu reklamasi yakni Kala Benoa. Film itu menyoroti reklamasi Teluk Benoa di Bali. Dandhy menegaskan film dokumenter itu sebagai kritik atas kebijakan pemerintah ketika media massa tidak banyak melakukan kritik. Karenanya, film Rayuan Pulau Palsu yang menyentil pengembang kakap di Indonesia tidak begitu dilirik oleh televisi Indonesia.
Film dokumenter tentang reklamasi, khususnya reklamasi di Jakarta. Bertujuan menyentil Presiden Joko Widodo yang dalam pidatonya pernah menyatakan tidak mau memunggungi laut. Namun, kebijakan mengenai reklamasi dipandang para pembuat film ini sebagai kontradiksi janji sang presiden. Lucunya kita adalah negara kepulauan yang membangun pulau, Karya ini ingin menggagas Bagaimana memanusiakan manusia lewat kebijakan-kebijakan yang ditetapkan. Sebagai mahasiswa, kita memang perlu memberi sumbangsih dengan berperan mengawal reklamasi maupun isu lainnya.
Kisah (Calon Mantan) Warga Muara Angke
“Saya lahir di Ancol. Dipindahkan ke
Muara Karang. Dipindahkan ke Muara Angke. Sekarang mau dipindahkan lagi. Saya
ini manusia,” protes seorang ibu sebagaimana ditampilkan Rayuan Pulau Palsu.
Beginikah pemimpin memperlakukan rakyatnya, di pindah kesana kemari layaknya
seperti barang yang hanya digunakan ketika dibutuhkan saja.
“Kita bukan orang liar, dan kita dipaksa sama pemerintahan dulu untuk tinggal di Muara Angke yang dulunya hutan,” keluh warga lain.“Dari Muara Angke masih hutan, Pak, saya udah di sini. Sekarang, begitu di sini ada gedung di sana ada gedung, kita mau dipindah.” Tambah warga lain. Warga menempati tempat tinggalnya itu membayar bukan ilegal, sudah membeli rumah, masih saja di pungut pajak. Bagaimana dengan nasib bangsa yang saat ini tanahnya saja kontrak, air saja beli, mana kolam susunya?
Mereka akan dipindahkan pemerintah provinsi DKI Jakarta dalam rangka mewujudkan reklamasi Teluk Jakarta. Rencana pembuatan 17 pulau oleh pemerintah Jakarta ini terintegrasi juga dengan proyek reklamasi Teluk Jakarta, dan disebut Proyek Garuda. Selain mengakibatkan sejumlah warga digusur, reklamasi juga menurunkan pendapatan nelayan. Sebelum reklamasi, mereka bisa mendapat 30 hingga 40 kg ikan sekali melaut. Kini, mereka mendapat 2 hingga 10 kg. Nah tuh bener nih kata bang Rhoma Irama dalam lagunya yang syahdu beliau mengatakan “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”. Na`udzubillah...
“Berani-beraninya Teluk Jakarta ga ada ikan,” kata salah satu nelayan. “Sebelum reklamasi kan ada nelayan.” Pak Presiden sudah alergi makan ikan mungkin. Diperlihatkannya juga beberapa ekor ikan yang baru terjaring olehnya. “Ini ikan asli Teluk Jakarta. Tuh, masih kepek-kepek.” Kalau saja ikan itu masih hidup ketika sampai di daratan maka masih terjual pada tengkulak, nah jika ikan itu telah mati, keuntungan tak akan lagi berpihak pada nelayan.
Nah disini saya mau nanya nih, Apa dari teman-teman mahasiswa, ibu dosen, pak dosen, pak buk mbak mas dari cleaning service, bapak-bapak yang lagi bangun gedung UINSA, dan ibu-ibu yang sedang berdagang makanan, apakah disini ada yang belum pernah makan ikan? saya yakin nih pasti dari keseluruhan penduduk kampus UINSA pasti pernah makan ikan, dan mengetahui bagaimana naik turunnya harga ikan, bahkan para petinggi negri pun mereka semua juga membutuhkan nelayan untuk merasakan nikmatnya makan ikan yang di tangkap oleh nelayan. Benar tidak?
KELAS FILM
Divisi Penelitian dan Pembangunan, menjalankan agenda bulanan dengan mengajak mahasiswa sosiologi semester 1, yakni nobar film dokumenter RAYUAN PULAU PALSU yang di lanjut dengan diskusi.
Menurut kawan kita Khoiruddin mahasiswa sosiologi semester 1, dia menceritakan bahwa di madura kini tanah-tanah telah disengketakan oleh pemilik modal, ini seringkali terjadi bahwa warga telah mempertahankan tanah miliknya tetapi banyak tangan yang tidak bertanggung jawab yang telah dengan sengaja melelangkan tanahnya ke BPN Madura. Ada nih kawan saya yang bernama Rizky berpendapat bahwa Madura merupakan darah yang mempunyai potensi migas sangat tinggi yang dalam realitasnya masyarakat masih hidup keterbatasan akses untuk mengelola potensi tersebut, yang malah konsesinya tidak dimiliki oleh masyarakat. Seperti yang terjadi di Desa Lerpak Kecamatan Geger Bangkalan, Madura. Mereka menolak karena rencana pengeboran yang dilakukan SPE Petroleum Ltd itu hanya akan mengganggu ketenteraman warga.
Tantan teman Khoiruddin juga menceritakan di mana daerah tempat ia tinggal, perbatasan antara Jember dan Lumajan tersebut memiliki tambang pasir besi. Menurut saya sebenarnya sifat dari pasir besi tersebut selain sebagai bahan mentah pertambangan juga berfungsi mengikat air laut kemudian mengubahnya menjadi air tawar yang sering dimanfaatkan oleh petani lepas pantai.
“Disini bagaimana peran mahasiswa untuk menangani segala masalah yang ada di negara ini, salah satunya reklamasi yang ada di surabaya ini, padahal sudah lama terjadi? tanya Nur Halimah mahasiswa prodi sosiologi semester 1 dalam forum diskusi.
“Sebagai mahasiswa, kita tidak boleh buta akan informasi, setidaknya tau apa itu reklamasi, jangan di bandingkan nelayan yang kebanyakan hidup di laut dan tak bersekolah, dengan kita sebagai mahasiswa, yang seharusnya lebih kritis dari mereka.” ujar Feny Rahmadyanti menanggapi pertanyaan dari Nur Halimah kawan sekelasnya.
Memang sebenarnya kita sedang tidak baik-baik saja, kita dituntut untuk terus memenuhi kebutuhan palsu yang diciptakan oleh pemodal sebagai alat untuk memanipulasi keadaan sebenarnya. Maka bagaimanakah seharusnya peran mahasiswa sosiologi menurut hemat saya adalah sebisa mungkin melahap setiap teori yang terdapat di berbagai buku sebagai penunjang kita dalam menganalisa permasalahan sosial. Kemudian ketika sedang melahap teori, kita juga harus terus mengasahnya dengan jalan-jalan ke barbagai tempat untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di luar sana dan jangan hanya menjadi katak dalam tempurung. Dimana mahasiswa hanya nyaman dengan menara gadingnya tanpa mau keluar dari kemapanannya. Film ini juga sangat direkomendasikan bagi anda yang mendalami isu ekonomi dan sosiologi. Ada potret kehidupan nelayan di Muara Angke yang menarik disimak dan mengundang tanda tanya besar seperti, untuk siapa sebenarnya reklamasi Teluk Jakarta?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar